Jumat, 08 Oktober 2010

Ketika Alloh memanggil diantara dosa yang membentang jalan

jengah... dalam kestatisan yang membosankan
membeku yang membaur dengan diam 
monoton diantara dunia yang terus berjalan
dan terhempas mimpi yang tiada berkesudahan..
kosong kulangkahkan kaki tanpa tujuan aku hanya ingin lari dari kehampaan,
aku  mencari bahu yang dapat kusandarkan , dan  mencari telinga yang bisa mendengarkan, 
entah nasehat mana yang belum kudengarkan,dan  kebenaran mana lagi yang ku ragukan,
namun aku masih dalam kebimbangan..,  

senja tlah jauh meninggalkan pagi, sisakan chya surya yang semakin bersembunyi di balik gunung ciremai menambah indahnya panorama pematang sawah yang menyajikan berjuta hayalan hingga azanpun tak menggugahku tuk segera beranjak dari tempatku terdiam ...
"magriban dikit ang...!!!  di gulati mendi-mendi anae ng kene" (di cariin kemana2 adanya disisni)  seruan seorang sahabat  sambil menepuk pundakku seraya mengmbalikan sepeda kumbang yang di pinjamnya kemarin seakan  menyadarkanku yang sedang di cumbui lamunan,
"oh,,, iya iya kesuwun" (iya iya makasih) sahutku yang terkejut menjawab seruannya 
hfff... rasanya enggan kutinggalkan hamparan tak bertuan ini, hamparan yang seolah membuatku menjadi raja dalam singgasana yang beratapkan langit, dan beralaskan bumi, singgasana yang kan diterangi cahaya yang bernamenkan lintang dan wulan yang memantulkan sinarnya,..
ahhhh... dalam ku hela nafas nie....

....  sambil berdiri ku liuk-liukkkan badan ini  “karatak krutuk” terdengarlah sendi sendi yang memang sudah jarang sekali di gerakkan ..
“olah raga ang”  sergah sahabatku seraya memberikan sepeda kumbang peninggalan bapakku
 ‘nih kamu yang bawa sekaliah olahraga selorohnya lg”…
“hmmm.. ku hanya tersenyum merespon semua fonis yang ia tujukan padaku.
Karena memang dialah yang tau banyak tentang kehidupanku

Berat ku kayuh sepeda kesayanganku arungi jalanan tanah liat yang sudah ditumbuhi rerumputan di tambah lagi beban harus membonceng sahabatku,  entah mengapa tiada percakapan hingga sesampainya kami di tempat tujuan,…
“nglamun aja kang’ tiba tiba sahabatku mengoyakkan semua kebisuan..
“entahlah”  jawabku dalam kebingungan..
:ayo cepet magriban keburu isya” tanpa menunggu jawabanku ia bergegas bersuci tuk menjalankan kewajiban..
Akupun mengikuti langkahnya hanya tuk menggugurkan kewajiban atau entah apalah aku sendiri tak mengerti

“mangga ang” serunya mempersilahkanku tuk menjadi imamnya
”mangga manga” jawabku sambil memaksa dia tuk menjadi imamku, karena aku tak merasa baik hari ini, 
Di sisa kamar yang sempit nie kami berjamaah , , aku merasa malu dengan keadaanku saat ini, serasa tak layak  menghadap Robbku hingga berani beraninya diriku bertengadah bermunajat pada zat yang selayaknya diriku mendapat murkaNYa, dalam sholatku aku masih terbawa dalam lamunan dan khayalan tenteng mimpi² sore tadi, meski sahabatku mendzhahirkan bacaan sholatnya hingga rokaat berikutnya  ia bacakan surat al-lahab yang kudengarkan hanya sepintas lalu saja,
 selepas salaam sahabatku masih asyik bermunajat stelah sholatnya dan aku segera berangsut  pergi menuju kursi malas di teras rumahnya.. . kosong kulayangkan pandangan menerawangi kehampaan disaat rembulan menunjukkan tajinya , dan gemerlip bintang begitu terang selayaknya malaikat ataupun bidadari sedang berpesta. Aku semakin terpaku bersenyawa dengan alam, aku semakin asyik dengan kesendirian, namun surat yang di bacakan saat berjamaah tadi membuatku kembali dalam ketakutan,  disaat ku kaji  dan kurenungkan kembali apa yang kudengarkan, seolah ayat yang barusan tadi dibacakan  begitu dekat kepadaku, bukan cerita tentang al-lahab (abdul uzza) yang sesugguhnya ayat ini diperuntukkan , namun apa bedanya  allahab / abdul uzza dengan diriku..?  ketika tanda tanda  yang tertera begitu sama, seakan ayat ini dibisikkan dekat ditelingaku “celakah kedua tanganmu dan telah celakalah engkau”  terbayang olehku… begitu murkanya Alloh dengan kedzholiman yang telah kuperbuat, baik kedzaliam kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, “ ketika aku tak  merasa cukup, kenyang ataupun bersyukur  dengan harta dan apa yang telah diupayakan, sedang semua yang tiada keberkahan/kehalalan  akan  menjadi api yang membakarku dineraka nanti, begitu pula segala upaya yang banyak kulakukan bukan tuk mencari keridloanNya..
ahhhhhhh...  kembali ku berdesah … begitu berat ku ingat kembali lembaran hitam yang sangat panjang,
hampir saja kuteteskan airmata seandainya sahabatku tak segera datang membawa seduhan kopi yang ia sediakan untukku
tak lama kemudian adzan berkumandang namun kami masih belum beranjak dari tempat kami terdiam dimana kami baru saja memulai dalam obrolan.
“ada apa kang” selidiknya tajam matanya menatapku
“entahlah” elakku dan kebisuanku biarkan sahabatku dalam sakwa sangkanya…
“halaaah… kamu gak biasanya begini “ sergahnya semakin penasaran dengan segala kegalauanku
“isya dulu yuk ..!!!” kembali kumengelak  dengan mengajaknya sholat isya karena ku sendiri sedang tak ingin terjebak dengan pertanyaan yang aku sendiri sedang tidak berkenan ntuk membahasnya
Sahabatku hanya tersenyum dengan polahku tuk mengalihkan semua pertanyaanyya . seraya mengikuti langkahku yang beranjak menuju tempat bersuci.
Tak seperti biasanya ku hayati setiap gerakan dalam wudluku, ku mohonkan hampunan  pada setiap kesalahan yang diperbuat anggota tubuh yang kubasuh atau ku usap dalam wudluku.
Mantap kulangkahkan kakiku menuju tempat sebelumnya kami berjamaah tadi , tanpa dimintapun aku sudah berdiri didepan dan bersiap tuk menjadi Imamnya,
Berkali kali kuhela nafas ini sebelum mengawali takbir, begitu berat ku baca setiap ayat demi ayat dalam awal sholatku setelah fatihah di roka’at yang kedua aku membaca 3 ayat terakhir dalam surat albaqoroh,
Parau suara ini ketika terbayang akan segala kesalahan dan kekhilafan yang sering kualami, yaa Alloh janganlah engkau berikan beban yang berat seperti yang telah Engkau bebankan kepada orang² sebelum kami,
Dan jangan pula Engkau bebankan kepada kami yang tiada sanggup kami memikulnya, tak terasa airmataku berlinangan saat ku bermohon akan hampunan dari segala dosa dan pintakan rahmat akan segala karuniaNYA
Selepas salaam kutepuk pundak sahabatku seraya perpamitan tuk tinggalkan rumahnya, “assalaamu ‘alaikum” ku berlalu meninggalkan sahabatku
“wa’alaikum salaam” sahutnya namun  kosong matanya menatap kepergianku dengan berjuta Tanya ..
Akupun pergi menjauh tinggalkan tatapannya penuh Tanya,
Meski akupun bertanya diri sendiri
“haruskah bertobat di antara dosa yang mementang jalan..??”


2 komentar:

Anonim mengatakan...

hhh... di tunggu sambungannya um...

Majelis Puasa Daud mengatakan...

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:


Bahwa Nabi saw. bersabda:

Di antara umat sebelum kamu sekalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatangi pendeta tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah tobatnya akan diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak!

Lalu dibunuhnyalah pendeta itu sehingga melengkapi seratus pembunuhan. Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah tobatnya akan diterima? Orang alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi tobat seseorang! Pergilah ke negeri Anu dan Anu karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Allah lalu sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan!

Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya. Berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab mengenainya. Malaikat rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertobat dan menghadap sepenuh hati kepada Allah. Malaikat azab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun.

Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga diambillah ia oleh malaikat rahmat.

(Shahih Muslim No.4967)